Follow us @ongisnadeNet

Analisa: Kegagalan Antisipasi Rohit Chand dan Kejamnya Bola Mati Persija



Kekalahan pertama pada kompetisi Liga 1 musim 2018 harus diterima Arema FC saat melawan Persija Jakarta, Sabtu (31/3) di stadion Gelora Bung Karno.

Persija membuka keunggulan melalui sepakan dari Marko Simic pada menit 27. Tak berselang lama, Arema FC mampu membalas melalui Ahmet Atayev setelah memanfaatkan bola rebound hasil sepakan bebas Balsa Bozovic. Namun pada babak kedua, Persija mampu cetak dua gol melalui Simic menit 53 dan Jaimerson menit 82.

Tak seperti biasanya, Arema FC tetap menerapkan formasi menyerang meski bertandang ke kandang lawan. Hal yang tak biasa dilakukan oleh Joko Susilo karena lebih sering bermain bertahan saat melawat ke kandang lawan. Namun dengan formasi 4-3-3 menunjukkan Arema FC ingin bermain terbuka. Ada tiga perubahan line up yang dilakukan daripada saat melawan Mitra Kukar yaitu Hanif Sjahbandi, Ridwan Tawainella dan Bagas Adi yang dimainkan sejak menit awal.

Persija yang bermain sebagai tuan rumah memang mengambil inisiatif serangan. Namun koordinasi lini belakang Arema FC relatif bagus. Satu kelengahan pada menit 27 akhirnya mampu dimanfaatkan Persija. Rezaldi Bule tak mendapatkan pengawalan di sisi kanan pertahanan dengan enak mengirimkan umpan cut back yang mampu disambut oleh Simic.

Ada dua hal yang menjadi sorotan atas gol ini. Pertama adalah Hendro Siswanto yang seakan lupa bahwa dia bermain sebagai bek kanan justru melakukan pressing pada pemain tengah Persija, alhasil Bule tak ada yang mengawal. Kedua, striker sekelas Simic dibiarkan bebas. Melihat pergerakan Simic dari tengah harusnya ada satu pemain tengah yang mengcover dia, opsinya adalah Atayev namun hal itu tak dilakukan.

Gol ini sebenarnya justru jadi momentum untuk Arema FC. Karena tim Singo Edan justru tampil lebih baik. Permainan lebih cair, serangan juga lebih variatif. Dimasukkannya Dedik Setiawan menggantikan Ridwan Tawainella membuat lini sayap lebih hidup. Hanif dan Atayev juga berani berduel untuk menguasai ball possesion.

Hasilnya pada menit 37, sepakan bebas didapatkan Arema FC. Adalah Balsa Bozovic yang menjadi eksekutor mampu menunjukkan kelasnya. Meski berhasil ditepis namun bola reboundnya mampu disambut oleh Ahmet Atayev. Terlihat skema gol ini adalah buah hasil latihan karena pemain Arema siap pada posisi masing masing jika ada bola rebound hasil sepakan bebas.

Namun matangnya proses sepakan bebas Arema FC tak dibarengi saat mendapatkan peluang melalui kerjasama tim. Padahal pasca gol dari Atayev praktis Arema FC lebih banyak mendapatkan peluang. Thiago Furtuos tercatat tiga kali tak mampu menyelesaikan dengan baik. Jika boleh memilih kata, maka striker asal Brazil ini terlihat egois padahal ada satu peluang yang akan lebih baik jika dia umpan daripada eksekusi sendiri.

Babak kedua dimulai. Persija merespon positif dengan melakukan perubahan dengan memasukkan Rohit Chand untuk menggantikan Fitra Ridwan. Pergantian inilah yang sebenarnya jadi kunci karena lini tengah Persija unggul segalanya pada 45 menit kedua. Masuknya Rohit Chand selain mampu mendistribusikan bola ke depan dengan baik juga membuat serangan Arema FC hanya bisa sampai setengah lapangan saja.

Maka tak heran jika babak kedua, serangan Persija begitu dominan. Beberapa kali mereka mampu mengancam. Sayangnya hal ini tak direspon dengan cepat oleh Arema FC dengan membiarkan komposisi pemain yang ada dan belum melakukan pergantian lagi. Padahal jika jeli, opsi memasukkan Ricky Ohorella atau Israel bisa dilakukan dengan menggeser Hendro kembali ke lini tengah. Formasi pun bisa berubah menjadi 4-4-2. Lini tengah akan lebih padat dan potensi memenangkan duel pun bisa terjadi.

Tak adanya perubahan seolah membuat Arema FC tak mengantisipasi sama sekali perubahan yang dilakukan Persija. Hasilnya tim berjuluk Macan Kemayoran ini mampu menghukum Arema FC melalui dua gol dari bola mati atau sepak pojok. Jika satu hari sebelumnya pelatih Persija, Teco menyatakan mewaspadai bola mati Arema nampaknya justru Arema yang tak mewaspadai bola mati Persija padahal tim juara Piala Presiden 2018 ini memiliki pemain dengan postur yang memadai untuk duel udara.

Terlihat dari dua gol Persija itu, bahkan jika ditambah ada satu gol dari Addison Alves yang dianulir nampak kurangnya antisipasi Arema pada potensi gol Persija dari sepak pojok. Gol pertama, tak jelas siapa yang harus mengawal Marko Simic apakah Ahmet Atayev atau Arthur Cunha. Umpan Ismed Sofyan sebenarnya bisa diantisipasi jika Simic dikawal ketat terutama saat dia bergerak tanpa bola. Namun ternyata hal ini tak dilakukan.

Proses yang sama juga terjadi pada gol ketiga Persija melalui Jaimerson. Kali ini praktis adalah kesalahan Atayev yang justru membiarkan stoper asal Brazil tersebut dengan nyaman menerima bola sepak pojok umpan dari Ismed Sofyan. Lemah, itulah kata yang tepat saat Arema FC diserang melalui crossing lawan.

Dua gol dari Mitra Kukar dan Persija melalui skema crossing adalah nyata bahwa Arema FC lemah dalam antisipasi crossing lawan. Pelatih Joko Susilo pun pernah berujar selalu melatih antisipasi crossing lawan, namun nyatanya tetap saja terjadi. Pertandingan melawan Borneo FC Minggu depan harusnya menjadi pertaruhan bagi semua komponen tim terutama saat bertahan. Sebab jika tim mu tak bisa cetak gol, setidaknya tim mu jangan sampai kebobolan.

Ditulis oleh Muhammad Irfan Anshori

Penulis di Ongisnade.co.id