Follow usĀ @ongisnadeNet

Perjalanan Joko Susilo: Dari Akademi Hingga Pelatih Kepala



Arema FC akhirnya resmi memperkenalkan Joko Susilo sebagai pelatih kepala untuk musim 2018. Untuk pertama kalinya dia menjadi pelatih sejak awal musim.

Pelatih yang akrab disapa Gethuk ini memang merintis karir kepelatihannya dari bawah. Ia memulai karirnya sebagai pelatih di akademi Arema. Keseriusannya melatih di level akademi membuat Miroslav Janu pada musim 2006-2007. Ia ditarik menjadi asisten pelatih. Tugasnya saat itu untuk memantau kekuatan tim lawan.

Sejak musim inilah dia kemudian terus menjadi asisten pelatih di tim Arema FC. Musim 2008 ia mendampingi Bambang Nurdiansyah sebagai pelatih kepala. Namun Banur-sapaan akrab Bambang Nurdiansyah-tak lama di Arema karena mengundurkan diri. Penggantinya adalah Gusnul Yakin dan Gethuk tetap diplot sebagai asisten pelatih.

Musim 2009-2010 atau saat Arema menjadi juara, ia bersama Liestiadi berperan sebagai asisten pelatih untuk Robert Rene Alberts. Semusim sesudahnya ia kembali bekerja sama dengan Miroslav Janu yang ditarik lagi untuk menggantikan Robert Alberts.

Gethuk mulai akrab dengan posisi pelatih kepala sejak musim 2011 atau saat ada dualisme kompetisi. Saat itu, ada Arema yang bermain di Liga Primer Indonesia (LPI) dan Liga Super Indonesia (LSI). Musim 2011, Arema yang bermain di LSi menunjuk Wolfgang Pikal. Namun karena prestasi tak membaik, Arema FC memecat Pikal dan menunjuk Gethuk sebagai pelatih sementara.

Namun saat itu nampakya memang dia belum siap dengan jabatan sebagai pelatih meski itu berstatus sebagai caretaker. Akhirnya manajemen menunjuk Suharno yang kemudian mengembalikan Gethuk menjadi asisten pelatih. Saat itu akhirnya Arema selamat dari degradasi.

Semusim setelahnya posisi Joko Susilo masih aman. Perombakan di tubuh tim tak membuatnya juga angkat kaki. Pada musim 2012/2013, Arema FC dilatih Rahmad Darmawan dan berisi pemain pemain bintang. Gethuk pun tetap dipercaya sebagai asisten pelatih bersama Satija Bagja.

Berstatus Los Galacticos saat itu ternyata tak berbuah hasil untuk Arema karena tak mampu meraih juara. Semusim berikutnya, ia kemudian ditunjuk sebagai pelatih bersama dengan almarhum Suharno. Gethuk mulai naik kelas, namun karena belum mempunyai lisensi yang sesuai syarat membuat pihak manajemen Arema juga menunjuk almarhum Suharno.

Duet ini berjalan dua musim karena pada musim pertama mampu membawa Arema tembus hingga babak semifinal. Semusim berikutnya, duet ini tetap berjalan namun Indonesia mendapat sanksi dari FIFA yang membuat aktifitas kompetisi terhenti. Dan saat musim ini pula almarhum Suharno meninggal. Joko Susilo akhirnya menggantikan dengan melatih Arema di ajang ujicoba atau turnamen karena saat itu kompetisi masih vakum.

Memasuki musim 2016, Arema FC menunjuk Milomir Seslija sebagai pelatih. Joko Susilo ditunjuk sebagai asisten pelatih. Beberapa gelar diberikan saat era Milo salah satunya Piala Bhayangkara. Musim 2017 lalu saat kompetisi resmi dimulai, Aji Santoso ditunjuk sebagai pelatih tim. Dilabeli pandawa lima, Joko Susilo menjadi salah satu pendamping.

Namun label ini hanya bertahan hingga pertengahan musim. Aji Santoso mengundurkan diri dan Joko Susilo yang kemudian menggantikan hingga musim 2017 selesai. Dan memasuki jelang musim 2018, Gethuk resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala. Pertama kali sejak ia merintis karir kepelatihan, Gethuk memegang penuh tim sejak awal musim.

Jika dulu sempat menjadi caretaker kemudian pelatih pengganti namun itu dilakukan saat pertengahan musim. Hari ini perbedaan mencolok adalah Gethuk melatih tim ini sejak awal musim. Ia bisa membentuk tim dengan seleranya. Soal hasil nanti kita lihat bagaimana.

Menanggapi perjalanan karirnya ini, Gethuk mengaku bersyukur soal perjalanan karirnya yang dimulai dari observasi tim hingga menjadi pelatih kepala saat ini.

"Perbedaanya musim ini adalah kami mulai dari awal untuk membangun tim. Berbeda dengan tugas kemarin karena tim sudah terbentuk," pungkasnya.

Selamat bekerja coach...