Follow usĀ @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Chant "J****K Dibunuh Saja", Asal Mula dan Kondisinya Kini

created by ico Sunday, 12 Nov 2017



Didunia per-supporter-an terdapat beberapa hal yang unik dan menarik untuk dibahas, selain kultur dan atribut, chant adalah hal yang menarik untuk dikupas.

Karena chant atau lagu penyemangat untuk klub dari supporternya adalah nafas tambahan bagi pemain yang berjuang diatas lapangan demi harga diri klub dan pendukungnya.

Di Indonesia menurut Ayas ada beberapa chants legendaris yang sering didendangkan diatas tribun. selain chant "Ayo-ayo.. sore ini kita harus menang" yang sudah menjadi chant wajib bagi sebagian suporter di negeri ini, juga ada chant yang ngeri-ngeri sedap dikuping, ya, chant "j****k dibunuh saja".

Ayas yakin hampir seluruh pecinta bola lokal mau suporter garis keras, garis lunak sampai suporter garis piknik pasti mengenal atau setidakya pernah dengar chant tersebut, baik ditribun atau dilayar kaca, bahkan saking populernya chant ini sampai "di-import" hingga ke negeri jiran dan banyak dinyanyikan disana.

Yang ingin ayas bahas disini adalah chant "dibunuh saja" ini. Chant ini terinspirasi dari lagu "cucak rowo" yang hits di tahun 2003, masih jelas diingatan ketika pertama kali chant "legendaris" ini menggaung adalah ketika Arema harus terjerembab ke divisi satu (liga 2 saat ini) liga pertamina 2003 saat itu Arema Malang menjamu tamunya Persmin Minahasa di stadion Gajayana, Malang, "Minahasa cok dibunuh saja" begitu nyanyian Aremania.

Saat Arema vs Persmin itu saya berada di mburi gawang kidul, selalu dan seperti biasanya, salah satu tempat paling cepat penuh oleh suporter di stadion Gajayana kala itu, dan seperti kebanyakan nawak-nawak yang lain, Aremania terdengar sangat bersemangat menyanyikan chant baru itu hinga membuat kuping pemain lawan merah dilapangan dan konon katanya riuh-rendahnya terdengar sampai ke jalan kelud, ediiiaan.

Pada awalnya chant "J****k dubunuh saja" ini ditujukan untuk menghancurkan mental pemain lawan, sehingga tak heran jika ending chantnya tergantung tim siapa yang dihadapi. Jika lawan Persib Bandung maka endingnya "persib j****k dibunuh saja" lalu jika lawan persita maka endingnya "persitaek dibunuh saja" bahkan persija pun tak luput dari teror chant ini (dulu) "persijancok dibunuh saja".

Tapi lama kelamaan setelah rivalitas yang makin meruncing apalagi dengan semakin seringnya terjadi gesekan antar rival dan juga setelah sepakbola lebih sering ditayangkan reguler dilayar kaca chant ini pun berubah haluan dan menjadi ditujukan untuk rival, sebagai contoh meski saat itu lawannya persipura, endingnya jadi "bonek j*****k dibunuh saja, pun jika lawannya persija endingnya juga sama.

Ngeri-ngeri sedap kedengarannya meski menurut hemat ayas chant dengan ujaran kebencian macam "j****k dibunuh saja" ini dari siapapun dan untuk siapapun itu jauh lebih berefek negatif ketimbang flare, jika chant dengan ujaran kebencian efeknya bisa sampai keseluruh penjuru negeri jika pertandingan disiarkan televisi.

Tapi jika flare atau cerawat efeknya mungkin cuma di stadion, tapi konyolnya komisi disiplin lebih memilih mendenda flare daripada chant/nyanyian ujaran kebencian ini sehingga terkesan pusaran rivalitas yang sudah menelan puluhan nyawa ini senggaja "dipelihara" oleh bapak-bapak pemangku kebijakan agar salah satu jualan mereka (partai rivalitas sengit) terlihat seksi dimata sponsor.

Seandainya, masih seandainya loh jikalau komdis berani dan mau mendenda suporter, siapapun itu, mau anak emas, mau anak tiri juga yang menyanyikan chant dengan ujaran kebencian itu mungkin sedikit banyak bisa untuk mereduksi chant dengan ujaran kebencian ini, selain kesadaran supporter itu sendiri tentunya.

Disini ayas juga sekalian ingin membuat otokritik untuk aremania, rek, kita ini punya puluhan chant mbois-mbois kok, chant yang mampu membangkitkan semangat pemain dilapangan, chant yang bisa membuat merinding kawan dan lawan, karena itu alangkah baiknya mari kita hidupkan kembali chant-chant itu, nada-nada masterpiece dari arek malang.

"mosok koyok gak nduwe chant ae rek nyanyine bunah-bunuh ae, joncak-jancok ae, lek chant kita titik wajar lah nyanyi bunah-bunuh joncak-jancok ae koyok suportere pelita eh madura seng chant e iso diitung karo driji, lha chant kita iku lak akeh a, mosok mek nyanyi iku-iku tok ae rek, padahal bien suporter sak endonesah niru lagu-lagune awake dewe polae aremania iku kreatif, aremania iku trendsenter kadit follower, jogoen iku rek, iku kultur e awake dewe sebagai pemegang tongkat estafet teko sesepuh-sesepuh aremania baik seng sek onok ataupun seng wes mendahului kita".

Sebagai penutup saatnya kita memandang rivalitas dari sisi positif, mari adu kreasi, adu nyaring suara dukungan, adu banyak-banyakan jumlah penonton kandang, adu jumlah pendapatan official merchandise dan lain sebagainya selagi dalam koridor hal positif, pun jika tadi ada suporter tuan rumah yang misuhi Arema di madura, biarlah, jika kita balas dengan hal serupa justru apa bedanya kita dengan mereka?

Arema: Fanatism-Footbalism-Humanitsm, ayas-umak hebak itreng. Salam Satu Jiwa, AREMA!

Ditulis oleh @ongisamid


Opinion