Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Saatnya berbenah Arema dan Aremania

created by ico Wednesday, 11 Oct 2017



Sejujurnya saat ini sudah hampir dibilang gak pernah duduk di tribun, faktor lokasi kerja diseberang lautan, dan mungkin agak kecewa dengan tingkah “beberapa oknum aremania yang masih urakan di jalan”. 

Alhamdulillah penulis asli Arema dan Alhamdulillah pernah duduk di tribun skor pas jaman Joko Susilo dan Nanang Supriadi dielu-elukan Aremania di gajayana. Masih jelas dalam ingatan penulis bagaimana mencekamnya ketika Arema vs Persebaya dimana baju berwarna hijau menjadi tabu di Gajayana.

Issue sweeping mobil Plat L ketika Arema vs Persebaya sangat santer terdengar kala itu. Seiring berjalannya waktu dan hanya bisa menjadi Aremania Elektronik, tanpa disadari sudah banyak yang berubah dengan Arema, mulai berganti kepengurusan, pemain, dan berbagai masalah yang silih berganti mendera.

Arema tentu tidak akan lepas dari Aremania, kumpulan supporter fanatik yang mengidolakan Arema. Aremania yang dulu lantang menyuarakan perubahan, menginspirasi berbagai supporter lain dengan kreatifitasnya, seakan hilang dengan issue “rasisme dan dualisme”. 

Dan tanpa dipungkiri 2 hal itu yang menjadikan Arema saat ini seakan kehilangan Roh-nya. Aremaniapun berubah, sudah dianggap menjadi “Menang mania” ataupun “Paido mania”, sebuah bukti bahwa banyak dari Aremania kehilangan identitasnya yang dulu, yang militan, yang ditakuti pemain jika mereka bermain buruk. 

Issue “Dualisme dan rasisme” menjadi vital ketika berakibat dengan sepinya penonton di setiap laga. Sayangnya Issue “Dualisme” yang sejatinya tidak pernah terjadi seakan-akan didiamkan oleh manajemen, sejatinya masalah dualisme tidak perlu dengan tindakan ke jalur meja hijau, tetapi cukup klarifikasi secara terbuka yang disampaikan manajemen mungkin akan cukup mengobati teman-teman Aremania yang mengatakan dualisme, tentunya dengan mengundang para “Sesepuh” yang mengerti bagaimana sejarah Arema.

Lantas bagaimana dengan Aremania? Sebenarnya Aremania perlu figure yang bisa menjembatani issue dualisme dan rassisme ini, seperti Bung Fery di Persija yang merangkul semua kelompok supporter, dan dihormati seluruh kalangan JakMania sendiri. 

Aremania butuh sosok tersebut, yang bisa merangkul teman-teman Aremania, bahkan bukan tidak mungkin dengan tersusunnya kepengurusan yang jelas dari teman-teman Aremania, akan berdampak positif dengan keuangan klub sendiri. 

Contoh: Aremania bisa membuat KTA yang sebagian dananya bisa digunakan untuk menyokong keuangan klub, tentunya butuh orang yang berkompeten dan mampu untuk mengkoordinir dana serta mengakomodasi keluhan para aremania untuk disampaikan ke manajemen Arema. Bukan hal yang mudah memang, tetapi mungkin bagi nawak-nawak yang peduli dengan Arema dan Aremania bisa diusulkan hal tersebut.

Bagaimana dengan manajemen? Apakah mereka sudah cukup baik? Masih banyak PR dari Manajemen, transparansi penggunaan dana Klub, pendapatan yang diterima klub juga perlu disampaikan kepada Aremania, sehingga masalah-masalah seperti issue gaji belum dibayar akan dicari jalan keluarnya dengan dibantu Aremania, yang perlu diingat manajemen adalah Aremania pernah urunan untuk gaji karyawan, betapa ruginya anda jika kesetiaan Aremania anda sia-siakan. 

Semoga Aremania dan Manajemen bisa semakin dewasa, semakin bersinergi untuk menciptakan prestasi di level nasional dan membawa harum nama kota Malang di persepakbolaan nasional. Salam Satu Jiwa, AREMA.  

Ditulis oleh Erdhika


Opinion