Follow usĀ @ongisnadeNet

Jiwa Singa yang hilang

created by Hera Arini Saturday, 27 May 2017



Arema adalah klub besar dengan dukungan supporter terbaik di Indonesia bahkan Asia sekalipun. Tidak sulit bagi klub sekelas Arema untuk menjadi klub swasta yang benar-benar mandiri tanpa bantuan dana dari pemerintah. Dengan dukungan supporter yang dianggap terbaik bahkan sampai level antar benua tentu ini menjadi magnet yang besar bagi para pelaku bisnis berinvestasi pada klub ini.

Tentu dengan dukungan dana yang kuat dan juga supporter yang begitu luar biasa tentunya ekspektasi pun menjadi luar biasa besar, target untuk berprestasi setinggi tingginya menghiasi perjalanan Arema setiap musimnya, termasuk musim ini. Kegagalan Arema melaju ke final ISL musim ini tentu mengecewakan banyak pihak mulai dari manajemen, staff pelatih, pemain dan tentunya supporter itu sendiri.

Pertanyaannya apa yang salah dengan tim ini?? Sekilas tidak ada yang salah dengan dukungan finansial yang kuat tidak sulit bagi Arema mendatangkan pemain berkaliber bintang seperti Gustavo Lopez dan Samsul Arif di tunjang dengan bintang-bintang musim lalu seperti Christian Gonzales, Beto Goncalvez ataupun Kurnia Meiga. Penampilan Arema pun cukup stabil hingga laga terakhir di semifinal Arema menjadi klub terproduktif di ISL.

Saya tidak akan menyebut ini kesalahan tapi lebih kepada hal hal yang perlu di perbaiki di musim depan. Yang pertama, musim ini Arema terlalu bergantung pada pemain bintangnya, musim ini pemain-pemain muda macam Sunarto, Irsyad Maulana maupun Dendi Santoso jarang sekali di beri kesempatan tampil padahal talenta mereka layak di perhitungkan. Sunarto dan Irsyad sering menjadi Joker atau penentu kemenangan meski di turunkan dari bangku cadangan, Dendi juga tidak perlu diragukan kemampuannya namanya kerap menghiasi daftar pemain Timnas di berbagai level usia. Musim ini mereka jarang sekali diturunkan.sehingga performa mereka menurun musim ini, tidak ada salahnya untuk lebih banyak memberi kesempatan pada anak-anak muda itu.

Yang kedua, tidak ada pelapis sepadan Gustavo Lopez. Musim ini, playmaker Argentina ini menjadi sosok sentral di permainan Arema. Mulai dari skill individunya hingga torehan assist dan golnya yang luar biasa. Tapi disaat Gustavo absen entah itu karena cedera atau akumulasi kartu, belum ada pemain yang bisa menggantikan Gustavo di lini tengah, lini tengah Arema seperti kehilangan nahkodanya. Ada baiknya musim depan manajemen merekrut pemain yang bisa melapis Gustavo tidak perlu asing lokal saja tidak apa-apa asal dia punya kemampuan setara Gustavo.

Yang Ketiga, kurangnya pelapis Kurnia Meiga. Sosok Meiga memang tidak bisa tergantikan di posisi kiper. Statusnya sebagai kiper nomor satu Indonesia menahbiskan hal itu. Namun Meiga tidak bisa seterusnya bermain, dan belum ada yang bisa menggantikan Meiga. Musim ini performa kiper pelapisnya angin-angin an. Sehingga saat Meiga absen, Arema seolah kehilangan kepercayaan diri. Ada baiknya musim depan, ada baiknya Arema berburu kiper pelapis Kurnia Meiga yang performanya stabil.

Yang keempat, jiwa singa yang konsisten, ngotot, petarung hingga menit akhir, seolah hilang dalam diri pemain Arema entahlah tapi itu yang saya rasakan. Musim ini, Arema seolah kehilangan tenaga di menit2 akhir, bahkan mental mereka seolah drop saat kebobolan atau di tekan di menit-menit akhir. Saya tidak tahu solusi apa untuk hal ini tapi mungkin ini tugas staff pelatih untuk lebih dan lebih lagi dalam memotivasi pemain, sehingga perjuangan mereka tidak kendur hingga menit akhir.

Sebenernya saya cuma orang biasa yang awam soal sepak bola, tapi ini adalah tulisan seorang supporter yang peduli akan kebaikan tim kebanggaannya. Semoga Arema bisa lebih baik dan juara di musim depan. #SalamSatuJiwa


Opinion