Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Arema Butuh Nakhoda, Bukan Legenda

created by ico Tuesday, 23 May 2017



Tujuh pertandingan sudah dilalui Arema dengan cukup mengecewakan. Sempat perkasa di empat laga awal, Arema langsung mendadak loyo memasuki pekan kelima. 

Sebenarnya secara permainan Arema juga tak terlalu istimewa dari laga perdana, meskipun berhasil memenangkan tiga dari empat laga. Sulit bagi Arema untuk mencetak gol, atau bahkan sekedar membuat peluang. 

Terlihat dari jumlah gol yang dicetak hingga pekan keempat yang berjumlah 4 gol saja. Arema bisa dibilang hanya tertolong oleh kokohnya lini belakang yang ditopang duet Bagas Adi dan Arthur Cunha, yang bisa mencetak clean sheet empat laga berturut-turut.

Sulit sekali rasanya menikmati permainan Arema. Menguasai bola, tapi seperti kebingungan harus berbuat apa. Permainan amat monoton, dengan banyak mengandalkan crossing-crossing yang tak efektif. Apalagi saat lawan menumpuk pemain di kotak penalti, seakan sudah tak ada jalan lagi.

Gonzales yang dulu sangat enjoy bermain sebagai pemantul bola, juga tak terlihat sama sekali perannya sejauh ini. Vizcarra juga terlalu lama membawa bola, seakan tak percaya dengan rekan-rekannya. Tak ada lagi build-up serangan yang rapi dari lini belakang hingga depan, malah seringkali long ball jadi pilihan. 

Sayang sekali jika pemain-pemain muda potensial seperti Hanif, Nasir, dan juga Andrianto hanya diforsir untuk menunjukkan skill individu, tak didukung dengan pola permainan yang jelas.

Dari segi kualitas pemain, tak ada yang meragukan tim yang lahir 11 Agustus 1987 ini. Nama-nama lama seperti Kurnia Meiga, Benny, Bustomi, Alfarizi, hingga Dendi masih setia menghiasi skuad. Ditambah pemain-pemain muda masa depan bangsa seperti Adam Alis, Bagas Adi, Nasir, Hanif Sjahbandi, hingga Dedik Setiawan. Andai tim ini berada di tangan yang benar, tak sulit rasanya untuk kembali raih trofi di kasta tertinggi.

Namun amunisi yang cukup menjanjikan itu tadi akhirnya sia-sia. Racikan tangan legenda hidup asal Malang tak mampu buat Arema berjaya, setidaknya di tujuh laga awal. Dengan deretan legenda yang menghiasi bench Arema, harapan Aremania akan permainan garang khas Malangan sama sekali tak terjawab.

Puncaknya tentu di pekan ke tujuh kemarin, saat Arema tanpa diduga harus mengakui keunggulan tim medioker macam Persela Lamongan dengan skor memalukan, 4-0. Menguasai bola hingga 60%, namun tak mampu menciptakan bahaya di gawang Choirul Huda sepanjang laga. Aneh bin ajaib kalau kata orang dulu. Ya, jangankan cetak gol, membuat jantung LA Mania berdegup kencang saja Singo Edan tak mampu.

Absennya duet center-back Arthur dan Bagas Adi tak bisa jadi alasan bagi tim sebesar Arema. Dengan opsi pemain yang tersisa, harusnya pelatih bisa menyesuaikan. Tak melulu harus dengan satu formasi dan komposisi yang itu-itu saja. Dan disini lah ketidakmampuan seorang Aji Santoso terlihat.

Saat benteng tangguh Arthur dan Bagas tampil, seretnya lini depan Arema sedikit termaafkan dengan kokohnya lini belakang. Namun saat lini depan tak jua menemukan ketajaman dan mereka harus absen, Arema seperti ditelanjangi. Tak susah membendung serangan Arema, begitu pula tak banyak keringat yang menetes untuk jebol gawang Kurnia Meiga. Itu semua nyata, menang telak pada possesion namun kalah telak pada hasil. Sekali lagi, yang menghancurkan bukan Persipura, Persib, atau PSM Makassar, melainkan tim yang seringkali jadi santapan lezat sang singa ketika sedang lapar.

Dengan kekalahan telak ini, kelemahan Arema sungguh telah terpampang nyata. Tak perlu nama besar untuk menyulitkan kampiun ISL 2009/2010 ini. Komposisi pemain yang berkualitas tak dibarengi dengan kualitas taktik yang menawan. Hasil memalukan kemarin juga menunjukkan bahwa Aji bukan sosok yang benar untuk memotivasi mental pemain. Tak ada yang berbeda antara babak kedua dan babak pertama, sama-sama lesu darah.

Nampaknya ini saat yang tepat bagi manajemen untuk mempertimbangkan nasib sang pemilik akademi ASIFA ini. Tiga kemenangan awal tak bisa dijadikan acuan, jika kita melihat gaya permainan Arema dibawah asuhannya secara keseluruhan. Kami hargai Aji sebagai legenda, namun sepertinya bukan pilihan tepat untuk menjadi nakhoda.

Ditulis oleh @cahyo2002


Opinion