Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: (Andai) Aku Aji Santoso

created by ico Friday, 19 May 2017



Sepakbola modern telah bergeser pattern. Dari 3-5-2 yang mengandalkan libero tangguh dengan kelincahan dua Wing Back untuk naik dan turun, menuju 4-4-2 yang seimbang di lini tengah dan sayap. 

Masih belum berhenti, tren pola 4-4-2 bergeser ke 4-3-3 atau 3-5-2 modern yang dikembangkan pelatih-pelatih Italia, atau bahkan 4-2-3-1 yang bertahan cukup lama karena pendekatan filosofi tiap pelatih bisa saja berbeda terhadap pola ini. Bisa dieksploitasi di pertahanan oleh pelatih bergaya pertahanan kental, atau bisa jadi penyerangan total yang cair bisa dieksploitasi pelatih-pelatih bernaluri menyerang.

Dan di Arema, sebagai coach Aji Santoso saya juga lebih cenderung memilih pola 4-2-3-1 jika melihat sumber daya pemain yang ada. 3-5-2 bisa jadi pilihan jika melihat latar belakang saya pada waktu bermain dulu. 

Tentu saja tidak pakai libero seperti Bejo Sugiantoro misalnya. Tapi patokan kerjasama ala trio BBC di Juventus lebih jadi pilihan. Tetapi opsi ini tidak bisa dipilih mengingat stok bek tengah yang langka.

4-2-3-1 jadi pilihan ideal untuk saya terapkan di sini. Tetapi saya pun tidak bisa bebas menggunakan sumber daya yang ada dengan maksimal. Saya berharap formasi bisa seperti ini : Kurnia Meiga - Benny Wahyudi, Arthur Cunha, Jad Noureddine, Alfaridzi - Ahmad Bustomi, Hendro Siswanto - Adam Alis, Esteban Vizcarra, Dendi Santoso - Cristian Gonzales. 

Dengan catatan mereka semua dalam kondisi on fire. Tetapi, meskipun on fire, mereka tidak bisa  diturunkan bersamaan karena regulasi U-22 yang diterapkan PSSI di kompetisi tahun ini.

Tiga pemain U-22 harus bermain minimal 45 menit. Jadi, mungkin Jad, Bustomi, Dendi harus dikorbankan demi masuknya Bagas, Hanif, dan Andrianto. Thank's God Arema punya anak-anak muda yang cukup berkualitas. Kehadiran mereka tidak banyak mereduksi kekuatan Arema dari sisi teknis. 

Teknis? Iya, karena sepakbola tidak hanya soal teknis. Ada faktor fisik dan mental juga yang berbicara. Pemain muda mungkin bagus di fisik, tetapi masih kurang di faktor mental. Dan mental bermain hanya bisa didapat melalui jam terbang tinggi. 

Kurnia Meiga di awal karir pernah dibobol lima kali di Kanjuruhan oleh Persipura. Namun ketika jam terbang mulai didapatkan, tak bisa dipungkiri saat ini membobol gawang Arema satu kali saja butuh perjuangan ekstra.

Jam terbang minim, sebisa mungkin diimbangi fisik yang kuat. Sanggup mengejar bola 90 menit tanpa henti adalah kunci utama. Timnas U-19 asuhan Indra Sjafrie unggul secara fisik di laga piala AFF Sidoarjo. 

Tim sekelas Vietnam pun "megap-megap" susah mengimbangi fisik Garuda Muda meskipun mereka unggul secara teknis. Fisik yang baik menunjang cara berpikir dari tim Garuda Muda. Mereka lebih bisa berpikir jernih ketika tim lawan sudah capek tak bisa berpikir lagi. Bukan rahasia, ketika capek otak dan kaki sudah tidak bisa sinkron lagi.

Jadi saya butuh pelatih fisik mumpuni untuk melatih fisik pemain saya dengan maksimal. Tentu titik maksimal bagi pemain muda dengan senior jelas berbeda, dan saya mempercayakan ini kepada pelatih fisik khusus. Ahli gizi juga diperlukan karena gizi dan energi yang dipakai pemain harus berbanding lurus.

Sepertinya ada yang terlupa. Ah iya, Juan Pablo Pino. Marquee player dari Kolombia. Sebenarnya saya tak terlalu butuh dia saat ini. Mengingat skuad di Arema sudah cukup mumpuni. Saya punya FAS, Bustomi, Jad, Keceng, Oky Derry, Nasir yang belum masuk starting eleven. 

4-2-3-1 milik saya tidak butuh 'trequartista'. Tiga gelandang tengah semua harus mempunyai mobilitas tinggi dalam menyerang dan bertahan, mampu memberi umpan dengan akurasi di atas 80%, dan juga mampu menendang ke arah gawang dengan akurasi minimal 90%. Lagi-lagi soal fisik yang berbicara. Pemain dengan fisik sangat prima lah yang bisa mengatasi hal ini.

Pino jelas belum mampu mencapai target saya saat ini. Dia punya akurasi umpan dan tendangan yang baik. Tapi ketika fisik dia tidak prima, dia kurang berguna untuk tim ini. Dia bisa naik, tapi susah untuk turun mengcover pertahanan. Jadi ketika menyerang terlihat tim ini lengkap 11 pemain. Ketika bertahan, kami seperti 10 pemain saja. Lain hal jika saya pakai 4-3-1-2. Dia bisa berdiri mandiri di belakang 2 striker, tanpa harus wajib bertahan.

Ketika dia 'terlanjur' dikontrak, maka saya pun harus mengakomodasi Pino dalam skema 4-2-3-1 saya. Jika dia bermain, lebih baik saya taruh dia di belakang striker. Tanpa harus turun ke bawah membantu pertahanan. Dan tugas untuk turun saya tekankan pada dua sayap. Vizcarra dan Andrianto. Pino maksimal turun di sepertiga lapangan lawan. 

Dan untuk striker, saya lebih memprioritaskan Dedik daripada El Loco di awal laga. Dengan Dedik yang lebih kecil dari El Loco, saya berharap sayap tidak terus menerus crossing atau umpan lambung ke depan.

Dedik suka bola daerah dan Pino suka bermain tik tak 1-2 sentuhan pendek. Karena dia masih terkendala fisik jika harus mengejar bola daerah atau sprint satu lawan satu. Mungkin Pino juga terkendala bahasa, tapi ketika bermain bahasa isyarat pun sudah bisa mewakili. 

Ketika dia susah berbahasa Indonesia, mungkin saya juga perlu untuk bisa berbahasa Spanyol atau Portugal agar saya bisa berbicara dengan mereka langsung dalam memberikan instruksi.

Saya pikir inilah sesuatu yang harus saya terapkan di tim ini. Keleluasaan dalam menentukan starting eleven dengan 'keterbatasan' yang ada dan pelatih fisik dan ahli gizi nomer satu.

Soal motivasi, jangan ragukan saya. Saya punya banyak hal yang bisa saya jadikan motivasi untuk pemain saya. Saya bukan pemain ecek-ecek di jaman saya. Saya punya kharisma bersama rekan-rekan saya di Pandawa Lima seperti Zidane di Real Madrid. Karena saya adalah (andaikan saja) Aji Santoso.

Ditulis oleh @rob_widhi

Bukan pengamat sepakbola, bukan pelatih, bukan pula penulis. Hanya penonton di depan layar kaca. 

Bagi yang ingin mengirimkan tulisannya bisa email ke ongisnadenet@gmail.com


Opinion