Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Nomor Punggung 20 (Bukan) Nomor Sial di Arema

created by ico Wednesday, 17 May 2017



Setiap pergantian musim kompetisi sepakbola, ada hal yang menarik untuk selalu dinantikan. Apa itu? Pergerakan transfer pemain. Tambal sulam ini mutlak dilakukan untuk meningkatkan kualitas tim guna bersaing dengan tim lainnya di kompetisi nantinya.

Tak terkecuali di klub kebanggaan masyarakat Malang Raya, Arema FC. Menjelang bergulirnya Go-Jek Traveloka Liga 1, Arema terus membenahi skuat untuk bersaing dengan klub-klub kuat lainnya semacam Persib, Persipura maupun PBFC dan Persija.

Selain mendatangkan beberapa pemain lokal dan asing berkualitas untuk menggantikan pemain yang hengkang, Arema juga memutuskan mendatangkan marquee player (pemain berkualitas dunia) seiring kebijakan operator Liga 1 yang 'mewajibkan' setiap klub yang mampu secara finansial untuk mengontrak pemain yang pernah bermain di level top dunia.

Pilihan Arema FC akhirnya jatuh kepada Juan Pablo Pino. Pemain berpaspor Kolombia ini pernah mencicipi panasnya liga top Eropa bersama AS Monaco (2008-2010), Galatasaray (2010-2012) dan Olympiacos (2013). Klub terakhir yang dibela pemain kelahiran 30 Maret 1987 ini adalah Universitario de Deportes Medelin yang bermain di Liga Domestik Peru.

Pino yang biasa bermain di posisi gelandang serang ini akan diplot oleh pelatih Arema, Aji Santoso sebagai 'pelayan' striker utama Arema, Cristian 'El Loco' Gonzales. Visi bermain dan umpan-umpan manja diharapkan lahir dari kedua kaki Pino.

Tetapi rupanya ekspektasi jajaran pelatih dan Aremania belum bisa dipenuhi oleh Pino. Sampai dengan pekan ke 5 Liga 1, bisa dibilang penampilan Pino jauh dari nilai kontraknya yang sangat mungkin tertinggi di Arema. Versi Transfermarkt, nilai Pino tidak kurang dari 500.000 Euro atau sekitar Rp 7 Miliar.

Waktu adaptasi yang mepet dan kendala fisik yang belum optimal bisa diajukan sebagai alasan kenapa performa Pino belum kunjung membaik.

Lalu, jika kita pakai analisis Cocoklogi -yang tentunya sangat subyektif- ada alasan lain yang membuat Pino sementara ini kurang bisa bermain optimal.

Apa itu? Nomor punggung 20. 

Pemakaian nomor punggung favorit tentu akan berdampak pada performa di lapangan terkait dengan sugesti yang terbentuk dari pemilihan nomor tersebut. 

Coba kita perhatikan, ada beberapa pemain yang identik dengan nomor punggung tertentu. Ahmad Bustomi dengan nomor 19, Arif Suyono dengan nomor 14 atau Hendro Siswanto dengan nomor 12-nya. Tentu banyak alasan yang mendorong mereka setia memakai nomor tersebut. Esensinya sama, sugesti positif akan terbentuk.

Tapi, ada istilah 'nomor sial' yang kita kenal. Di negara yang mendaku diri sebagai nenek moyang sepakbola, Inggris, nomor 13 dianggap angka sial. Sampai mereka mengganti nomor 13 dengan 12B. Di Italia, nomor 17 dianggap tidak memberi hoki. Maka jangan heran, jarang pemain asli Italia yang memakai nomor tersebut.

Di Arema, nomor 20 sepertinya punya cerita tersendiri.

Jika kita mundur setahun ke belakang, ada 3 persamaan yang menarik terkait dengan 3 pemakai nomor punggung 20 di Arema. Pertama, mereka semua pemain asing. Kedua, semua berposisi gelandang serang. Ketiga, dua pemain sebelumnya bernasib kurang baik.

Di kompetisi tidak resmi, ISC 2016, Arema sempat mengontrak pemain asal Brazil, Marcio Teruel. Digadang-gadang sebagai playmaker jempolan, nasib Teruel berakhir di meja operasi akibat cedera lutut kanan saat bermain melawan Persegres Gresik United (7/10). Akibat cedera ini, kontrak Teruel yang tersisa satu bulan, akhirnya tidak diperpanjang.

Kemudian lanjut ke nama kedua, Felippe Bertoldo. Pemain kidal yang sempat memperkuat Mitra Kukar ini sebenarnya tidak punya masalah dengan performa di lapangan. Walaupun pergerakannya kurang lincah, tetapi visi bermain dan kualitas passing dan skill-nya diatas rata-rata. Selain itu, di luar lapangan, Bertoldo bersikap hangat dan terkesan tidak sombong untuk berfoto bersama, sehingga membuat dia menjadi salah satu idola Aremania.

Tetapi kemudian masalah datang. Legalitas paspor Timor Leste-nya dinyatakan tidak sah oleh AFC sehingga membuat dia harus meninggalkan Arema. Padahal sebelumnya dia dikontrak Arema untuk mengisi slot pemain Asia. Pada akhirnya, Jad Noureddine didatangkan untuk menggantikan Bertoldo.

Dari dua pemain di atas yang kebetulan pemakai nomor 20 sebelum Pino, nasib baik seperti menjauh dari mereka. 

Semoga 'magis' Pino di lapangan bisa mengakhiri 'kutukan' nomor punggung 20!

Ditulis oleh Arta Kusuma

Bagi yang ingin mengirimkan tulisannya bisa email ke ongisnadenet@gmail.com


Opinion