Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Marquee Player Itu Fardhu Kifayah

created by ico Monday, 20 Mar 2017



Setelah dua tahun absen melihat tontonan kompetisi resmi, sebentar lagi masyarakat bola indonesia akan disuguhkan dengan gelaran liga 1.

Sebuah liga baru yang sebenarnya hanya pergantian nama saja dari Indonesian Super League (ISL). Dengan nama baru, operator baru (dari PT. LI ke PT. LIB), hingga jajaran petinggi PSSI yang baru, tentunya harapan baru juga tersemat di kompetisi yang akan resmi dimulai 15 April nanti.

Jelang bergulirnya kompetisi, perpindahan pemain menjadi sebuah keniscayaan. Klub peserta berlomba-lomba untuk memperkokoh armada perangnya sebelum kompetisi resmi bergulir. 

Ajang piala presiden yang telah berakhir minggu lalu, yang menasbihkan Arema menjadi kampiunnya, menjadi sarana pre-test bagi tim-tim peserta sebelum menjalani ujian yang sesungguhnya.

Beberapa transfer besar terjadi dan cukup menarik perhatian para pecinta bola tanah air. Seperti pulangnya stopper senior Hamka Hamzah ke PSM Makassar, atau Irfan Bachdim yang ternyata memilih Bali United sebagai pelabuhan selanjutnya setelah lama meniti karir di luar negeri. 

Namun dari sekian banyak transfer pemain yang terjadi, ada satu yang membuat publik terhenyak. Persib Bandung yang kali ini mencoba membuat sejarah. Tim pujaan bobotoh tersebut secara mengejutkan mendatangkan mantan pemain Chelsea, Michael Essien. Kabarnya, Persib harus menghabiskan 8,5 miliar demi mendatangkan bintang Ghana tersebut.

Memang ini bukan marquee player pertama yang pernah bermain di liga indonesia. Sebelumnya ada Roger Milla dan Pierre Njanka yang pernah merumput di Indonesia. Tapi, ini bisa dibilang menjadi yang paling fenomenal, jika dilihat dari track record Essien yang malang melintang di klub-klub elite Eropa. 

Tercatat Essien pernah memperkuat raksasa London, Chelsea, tim Serie A, AC Milan hingga salah satu tim tersukses di dunia, Real Madrid. Maka menjadi sebuah hal luar biasa saat salah satu tim negeri ini bisa merekrutnya.

Dengan hadirnya Essien di persepakbolaan tanah air, maka setidaknya dunia akan sedikit lebih 'perhatian' kepada Indonesia daripada tahun-tahun sebelumnya. 

Proses transfer kemarin pun tak luput dari liputan media asing. Persib pun juga semakin dikenal. Liga 1 akan lebih semarak pastinya, terlebih saat Persib sang pemilik Essien berlaga. Dampak positif banyak didapatkan dengan hadirnya mantan pemain Olympique Lyon tersebut.

Namun satu hal yang membuat saya merasa aneh dengan efek berlabuhnya Essien ke Persib. Kabarnya, PT. Liga Indonesia Baru sebagai operator liga 1 membuat regulasi baru dengan menambahkan marquee player pada kuota pemain asing. 

Pertanyaan saya, apakah semua tim mempunyai kondisi finansial yang sama dengan Persib? Persib memang terkenal tim kaya yang bertabur bintang tiap musimnya. Karena itu tak terlalu kaget jika yang berhasil mendatangkan marquee player adalah mereka.

Namun apa jadinya jika semua dipukul rata? Tim-tim lain saja masih banyak yang terkendala pembayaran gaji pemain, bagaimana bisa mendatangkan pemain-pemain seperti Essien. Pemain bisa lancar menerima gaji saja sudah bagus. 

Selain itu, dana sebesar itu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih urgen, infrastruktur misalnya. Lebih baik tim-tim peserta fokus memperbaiki fasilitas stadion, membangun training center, serta infrastruktur penunjang lainnya. Daripada berbondong-bondong mendatangkan marquee player hanya untuk mendapat sorotan dunia.

Benahi infrastruktur, fokus pembinaan pemain muda, perbaiki kualitas kompetisi, maka prestasi pun akan mengikuti. Hadirnya deretan marquee player bukan jalan yang bijak untuk perbaikan sepak bola nasional. 

Namun bukannya melarang, sah-sah saja bagi klub yang merasa mampu. Tak perlu ada kebijakan yang mewajibkan tiap tim mempunyai marquee player. Mungkin jika menggunakan istilah islam, cukup fardhu kifayah saja. Artinya cukup satu atau beberapa tim saja yang menggunakan jasa marquee player guna meningkatkan kualitas kompetisi.

ditulis oleh @cahyo2002


Opinion