Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Infrastruktur Dulu, Baru Marquee Player

created by ico Sunday, 19 Mar 2017



Siapa yang tak senang jika klub kebanggaannya mendatangkan pemain bintang yang sebelumnya hanya bisa ditonton melalui layar kaca sekarang bisa dilihat pada saat latihan klub. Marquee player memang membawa pesona tersendiri bagi penonton liga luar di indonesia maupun bagi sponsor. 

Kehadirannya selain menarik jumlah penonton datang ke stadion juga bisa membawa pengaruh terhadap daya jual tim kepada sponsor yang yakin produknya akan lebih dikenal jika menempel pada klub atau pemain tersebut. 

Namun dari gegap gempita sepakbola di indonesia, masih banyak persoalan yang menurut kacamata saya sangat basic bahkan pondasi utama dalam pengelolaan sepakbola. Melihat tren manajemen pengelolaan sepakbola di indonesia lebih mementingkan prestasi dengan membeli pemain bintang kemudian jika gagal merengkuh juara, nasib klub tersebut di musim selanjutnya tak tentu. 

Pengelolaan pertandingan juga masih mempunyai masalah seperti kebocoran tiket, padahal pemasukan tiket untuk klub di indonesia saat ini salah satu pemasukan utama yang diharapkan manajemen. Sepakbola indonesia sudah bergulir puluhan tahun namun sampai saat ini bagaimana menghadirkan layanan tiket yg bisa mendongkrak pemasukan masih belum ada, kurangnya kesadaran dari penonton bahwa tiket merupakan nyawa klub masih sedikit. 

Merchandising, beberapa klub besar maupun klub kecil teriak bahws jerdey mereka telah dipalsu oleh orang yg tidak bertanggung jawab. Tapi mereka (manajemen klub) lupa setelah launching baju tempur klub, jersey tersebut tidak langsung dijual dalam jumlah banyak. Hal tersebut dimanfaatkan oleh produsen untuk mengisi celah permintaan jersey. Hadirnya toko perlengkapan pernak pernik klub juga sebagai ajang mendekatkan diri ke penggemarnya. 

Infrastruktur berperan penting untuk menunjukkan sisi profesionalitas klub sepakbola, klub tidak harus mempunyai stadion tetapi klub wajib memiliki sarana latihan yang layak. Memiliki sarana latihan sendiri seperti lapangan juga akan meminimalisir cedera pemain ketika berlatih dilapangan yg kualitasnya pas pasan. Jika sekali berlatih membutuhkan 500k dan dalam sebulan ada 20kali berlatih sudah mencapai 10 juta untuk 1 tim, bagaimana jika klun tersebut mempunyai 1 tim senior, 1 tim cadangan serta 4 jenjang tim. Tentunya 6 tim dikali 10 juta dikali selama 10 bulan, 600 juta hanya untuk menyewa lapangan, belum Lagi fasilitas kolam renang serta arena Gym. 

Kemudian bagaimana pemain kita bisa bersaing di liga champion asia jika nutrisi pemain tidak dijaga, sering kali klub Indonesia menjadi bulan bulanan tim dari asia barat maupun asia timur. Pemain bola kita masih belum bisa lepas dari nasi putih, kerupuk, sambal dan bakso. Peran klub juga sangat vital menghadirkan ahli nutrisi yang tepat bagi pemainnya untuk mendapatkan kondisi ideal pada saat bertanding. 

Jadi pertanyaannya, kapan Arema punya training ground sendiri yang layak? 

Ditulis oleh Alif Musthofa 

Twitter @alifabee


Opinion