Follow us @ongisnadeNet

Tribun Aremania: Butuh Marquee Player, Arema?

created by ico Saturday, 18 Mar 2017



Siapa yang tidak bangga tim kebanggaan didatangi dan bahkan dibela pemain berlabel "Top Eropa"? Dan siapa pula yang tidak bangga tim kebanggaan menjadi perbincangan hangat publik karena mampu mendatangkan pemain berlabel "Top Dunia" tersebut?

Iya benar pemain tersebut disebut Marquee Player,namun pertanyaannya perlukah klub di Indonesia mendatangkan Marquee Player? Apakah gaya sepakbola cepat dan modern ala benua biru mampu adaptasi dengan gaya main keras ala Asia? 

Jauh sebelum kedatangan Michael Essien yang memperkuat Persib Bandung untuk gelaran Liga 1,ada beberapa nama bintang dunia yang sudah bermain di Indonesia yakni Roger Milla (Pelita Jaya dan Putra Samarinda) , Mario Kempes (Pelita Jaya) , Lee Hendrie (ex.Aston Villa dan Bandung FC di IPL) , Marcus Bent (Mitra Kukar) , Emmanuel Maboang Kessack (Pelita Jaya) dan terakhir Pierre Njanka (Persija Jakarta dan Arema) dan bisa dikatakan yang paling menyita perhatian adalah Pierre Njanka.Marquee Player yang bermain di posisi bek ini langsung membawa Arema juara di musim 2009/2010.

Marquee Player,banyak menuai pro dan kontra namun bukankah lebih baik membangun sarana dan prasarana untuk tim ketimbang mendatangkan "mantan" pemain bintang dengan harga yang terbilang cukup mahal.Saya sendiri kurang setuju dengan regulasi PSSI mengenai marquee player (meskipun tidak wajib),mengapa? Tim di Liga 1 ataupun Liga 2 hampir bahkan semua tidak memiliki fasilitas lapangan latihan."Kan bisa latihan di stadion!",benar namun apa tidak lebih baik membuat lapangan latihan sendiri?

Seperti Manchester di Carrington,seperti Juventus yang memiliki lapangan latihan diluar J-Stadium (masih 1 komplek dengan J-Stadium). Dengan harga yang terbilang "wah" di Indonesia,saya pikir jika marquee player tersebut tidak mampu memberikan kontribusi signifikan ya ibarat membeli kucing dalam karung bukan? 

Ironis,banyak pemain muda berbakat dan bertalenta,banyak talenta lokal luar biasa macam Evan Dimas,Febri Hariyadi,Hansamu Yama,Bagas Adi Nugroho hingga Hanif Sjahbandi,lalu untuk apa pemain "berumur" tersebut? Bukankah talenta lokal lebih mumpuni dan lebih menjanjikan dengan catatan diberikan jam terbang oleh pelatih? 

Dari segi pemasaran/marketing,memang penjualan jersey dan merchandise lainya mungkin bisa lebih laku berkali-kali lipat setelah kedatangan marquee player tersebut,namun jika hanya meledak di pasaran dan bukan skill yang ditunjukan dilapangan ya sama saja. Sponsor tentunya berdatangan setelah mengetahui ada marquee player merapat. Kenapa? Dari sisi bisnis bisa menguntungkan namun dari sisi tim di lapangan? Ada dua kemungkinan,baik dan buruk.

Bukankah gelontoran dana untuk membeli marquee player juga lebih baik untuk pembinaan usia dini? Tentu untuk prospek masa depan Timnas Indonesia juga. Saat ini mungkin Persib Bandung mampu mendatangkan Michael Essien, namun kita lihat di Liga 1 mendatang,apakah nasibnya akan sama seperti Marcus Bent di Mitra Kukar dulu atau malah seperti Pierre Njanka yang mampu memberi gelar juara Liga untuk Arema?.

Tak perlu marquee player,manfaatkan pemain muda lokal,beri jam terbang dan beri kepercayaan bukan tak mungkin pemain tersebut justru akan lebih baik dari Marquee Player tersebut.

Nasir,sayap kiri Arema membuktikan itu, pergerakannya bak seorang Marco Reus yang mampu melewati lawan dengan sprint saja dan Arema tak perlu mendatangkan marquee player untuk posisi manapun dan siapapun karena skuad saat ini adalah skuad juara.

So,apakah Singo Edan butuh Marquee Player? Tidak,percaya dengan skuad yang saat ini dimiliki karena tak ada pemain yang lebih besar daripada klub itu sendiri

Salam Satu Jiwa! AREMA!!! 

Penulis   : Iwan Setiawan

Twitter    : @iwanaremania87

IG          : @setiawaniwan_19


Opinion