Follow us @ongisnadeNet

Lop Nade, Lop Nade, Lop Nade

created by ico Wednesday, 8 Mar 2017



Salah satu yang membuat sepak bola sangat menarik dan menjadi candu bagi semua penggemarnya adalah drama yang tidak berhenti terjadi dari waktu ke waktu.

“Tak ada yang mustahil”, bukan sekadar jargon kosong dalam olahraga yang paling popular dalam jagat ini. Bukti telah banyak terhampar. Tim gurem menaklukkan  tim raksasa bertabur bintang, hujan gol diwarnai kejar-mengejar skor, comeback luar biasa, itu adalah beberapa drama yang terjadi dalam sepak bola.

Lop Nade! Lop Nade! Lop Nade! Itulah kata yang diucapkan oleh komentator televisi ketika gol demi gol diciptakan oleh Cristian “El Loco” Gonzales saat Arema FC secara mengejutkan mampu membalikkan agreggat sekaligus memupus harapan Semen Padang lolos ke final Piala Presiden 2017.

Malam itu, lima gol bersarang ke gawang M. Ridwan yang hanya mampu dibalas oleh dua gol Marcel Sacramento dan Vendry Mofu. Penulis, atau bahkan semua pecinta sepak bola, khususnya Aremania dibuat deg-deg ser ketika dua gol cepat Semen Padang menjebol gawang Kurnia Meiga.

Sepertinya mustahil Arema mampu menciptakan empat gol (agreggat 0-3) ke gawang Semen Padang. Apalagi, sebelum melawan Arema, gawang Semen Padang masih perawan alias belum ada satu gol pun yang bersarang ke gawang M. Ridwan. Namun, malam itu keajaiban terjadi. Dimulai pada menit 27 ketika El Loco lolos dari penjagaan Novrianto dan menceploskan bola ke gawang Semen Padang, gol demi gol terjadi dan puncaknya pada menit ke 90+5 saat Gonzales menceploskan gol ke limanya pada pertandingan malam itu.
Luar biasa. Dengan usia yang sudah menapaki kepala empat, dia masih menunjukkan ketajamannya. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Itulah El Loco. Gemuruh luar biasa tersaji di Stadion Kanjuruhan. Puluhan ribu Aremania bersorak mengelu-elukan namanya.

Setelah menahan napas lebih dari 90 menit, keajaiban itu akhirnya datang juga. Dengan dramatis, Arema membalikkan agreggat dari 0-1 (pertemuan pertama di Padang) ditambah dua gol cepat di Malang (0-3) menjadi 5-3! Kegembiraan para pemain Arema dan Aremania sangat kontras dengan apa yang dirasakan oleh punggawa Semen Padang. Raut kekecewaan sangat tergambar jelas dari para pemain Semen Padang seolah-olah mereka tak percaya dengan apa yang terjadi malam itu.

Mungkin, apa yang dirasakan pemain Semen Padang sama persis dengan apa yang dirasakan oleh para pemain Bayern Muenchen (UCL 1999-2000 dan 2011-2012)  dan AC Milan (2004-2005). Banyak yang menyaksikan pertandingan "Tragedi Istanbul" ini lewat layar kaca, termasuk saya sendiri. AC Milan unggul cepat melalui Paolo Maldini.

Dua gol hasil serangan kilat Hernan Crespo membuat AC Milan nyaman menutup Babak I dengan keunggulan 3-0. Tapi semua berbalik dibabak kedua dan tendangan penalty. Bukan AC Milan, melainkan Liverpool-lah yang berhasil mengangkat si “Kuping Lebar”.
Tapi, kekecewaan itu janganlah diratapi terus menerus. Inilah sepak bola. Salah satu yang membuat sepak bola itu indah adalah ketidakpastian hasilnya. Sepanjang 90 menit mustahil untuk memastikan hasilnya bahkan di satu menit terakhirpun.

Pada pertandingan sepakbola satu menit bisa mengubah pertandingan secara drastis. Sudah banyak kita lihat bagaimana gol-gol mengubah jalannya pertandingan dan membuat pertandingan tersebut masuk dalam sejarah. Semua mengajarkan satu hal penting yang dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan. Jangan pernah menyerah, karena harapan itu selalu ada.

Selama wasit belum meniup peluit panjang, apa pun masih bisa terjadi. Tertinggal tiga gol (secara agreggat), dengan usaha dan kerja keras dari “matahari terbit sampai matahari terbenam”, Singo Edan sanggup bangkit untuk membukukan salah satu comeback terhebat  dalam sejarah sepak bola Indonesia di Piala Presiden 2017.  Di final 12 Maret 2017 nanti, Arema FC sudah ditunggu jagoan Kalimantan, Pusamania Borneo FC. Selamat, Singoku!

Ditulis oleh     : ILHAM SYAHRUL JIWANDONO
Twitter           : @IlhamSyahrulJ
Instagram     : Ilham Syahrul Jiwandono

 


Opinion