Follow us @ongisnadeNet

Mencoret Oknum dari Aremania

created by irfan Friday, 24 Feb 2017



Kemenangan selalu diiringi dengan kemeriahan. Kemenangan selalu didampingi dengan pesta. Tapi kadang kemenangan yang tak terkontrol juga dihinggapi oleh kemarahan.

Keberhasilan Arema Cronus Indonesia menjadi juara di Piala Gubernur Jatim 2013 mendapat suka cita dari semua elemen, salah satunya Aremania yang merupakan pendukung setia Singo Edan. Ini memang hanya pra musim tapi prestise yang dibawa layaknya mengalahkan sebuah kerajaan karena musuh bebuyutan, Persebaya yang dibungkam di "tempatnya" sendiri.

Perlakuan yang cenderung tidak fair sebelum laga final membuat aroma kemenangan yang didapat semakin emosional. Bimsalabim yang dibuat panitia turnamen dan Persebaya yang kemudian terpatahkan menambah dentuman kemenangan semakin keras. Namun seperti yang sudah saya ungkapkan diatas, kadang kemenangan yang tak terkontrol bisa dihinggapi oleh kemarahan.

Ya sebuah kemarahan yang konyol kadang secara tak sadar kemudian dilakukan. Apa yang menimpa Dendi Santoso dan istri karena perlakuan brutal salah satu yang disebut oknum Aremania membuat kaca belakang mobil pecah. Miris, tertawa sinis dan gelengan kepala menyambut kabar tersebut.

Lagi dan lagi, masih ada saja kejadian ini disaat sebuah pesta kemeriahan dirayakan. Disaat sebuah pesta kemenangan memecah kesunyian Malang Raya. Disaat kemenangan yang seharusnya disambut dengan tawa dan senyum, berubah menjadi umpatan sampai sindiran.

Siapa yang bersalah? Maka kata oknum-bukan nama manusia-selalu yang menjadi pesakitan. Oknum yang selalu mencederai nyanyian kemenangan yang terucap diribuan massa berkostum biru berlambangkan Singa. Oknum yang membuat orang lain menangis ditengah banjiran senyum yang seyogyanya menghinggapi semua orang.

Namun oknum selalu tidak berdiri sendiri. Di belakang oknum akan selalu ada kata yang mengikuti yang kemudian menjadi tertuduh. Siapa? Aremania yang tak hanya kata benda tapi sudah menjadi simbol persatuan antara warga Malang ini kemudian menjadi tertuduh kedua setelah oknum. 

Mengutip pendapat dari Karl Marx yang berujar: "Sejarah berulang, pertama-tama sebagai tragedi, kemudian sebagai banyolan". Bau negatif yang selalu terjadi dibalik sebuah perayaan kemenangan. Mau dianggap banyolan oleh kelompok suporter lain? Jawaban tegas saya pikir akan terucap "Tidak Mau".

Jawaban tegas yang seharusnya tak hanya terucap saat terbit matahari tapi kemudian hilang di senjanya matahari terbenam. Jawaban lugas yang sebaiknya tak hanya dikatakan satu atau dua orang tapi semua orang yang menganggap dirinya sebagai Aremania.

Kita (baca Aremania) kemudian menjadi korban. Kita seolah menjadi tertuduh utama dalam setiap perilaku negatif si Oknum. Ah, oknum ini memang selalu hadir sehingga kita dianggap banyolan. Satu tanjakan yang bisa dilakukan adalah coret oknum dari Aremania.

Jika beberapa waktu lalu, banyak Aremania yang lakukan demonstrasi menggugat ketidakbenaran di sepakbola Indonesia atau ketidakbenaran di tubuh tim Singo Edan. Maka sudah saatnya sekarang melakukan hal yang sama untuk mencoret oknum dari Aremania. Tapi bukan demonstrasi dengan turun jalan, cukup demonstrasi di hati masing-masing yang masih menganggap sebagai Aremania.

Demonstrasi dengan sebuah refleksi. Demonstrasi dengan sajian perbaikan sebagai suporter. Demonstrasi untuk menjadikan Aremania tak lagi mempunyai musuh bernama oknum. Cukup lakukan ini dihati masing-masing. "Apakah saya oknum atau apakah saya Aremania,"

Tulisan ini mungkin hanya dibaca oleh segelintir Aremania. Tapi pesan tulisan ini bisa anda sampaikan ke orang lain. Jika anda di stadion menyaksikan Arema bermain, jika anda berkostum biru berlogo Singa dan jika hati anda Aremania, cukup ucapkan kepada orang di sebelah anda: "Ayo jangan jadi oknum, jadi Aremania saja" 

Sudah itu saja.

*Tulisan ini karya editor Ongisnade.co.id, Muhammad Irfan Anshori (@irfanglen)


Opinion