Follow usĀ @ongisnadeNet

Stabilitas Arema Dan Dinamika Dualisme Berkepanjangan

created by ico Tuesday, 10 Jan 2017



KAMI AREMA SALAM SATU JIWA DI INDONESIA KAN SELALU ADA SELALU BERSAMA UNTUK KEMENANGAN KAMI AREMA !!!

Ialah APA Rapper, sang pencipta lagu Salam Satu Jiwa yang cepat merasuk di kalangan para supporter. Lagu diatas sontak mengetarkan jiwa dan raga tatkala sudah dilantangkan diatas tribun stadion kebanggaan tim Singo Edan, Arema.

APA Rapper menciptakan lagu dengan lirik yahud ini bukan tanpa maksud dan tujuan. Dibuatnya lagu ini guna menjadikan jiwa-jiwa para Aremania yang tercecer dapat terkumpul menjadi satu laiknya masa silam.

Tanpa mengesampingkan klub adikuasa yang ada, tidak bisa dipungkiri, Arema mampu menjadi barometer Sepakbola Indonesia sejauh ini. Prestasi yang mentereng, supporter yang penuh loyalitas, dan nama besar yang disandang, Arema laiknya raja yang mampu menghegemoni rakyatnya. Dalam setiap pertandingan yang dilakoni, Aremania selalu hadir memadati tribun stadion. Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Karena fanatisme pada kebanggan tidak hanya teori saja, butuh implementasi.

Namun, saat ini, Kota Malang dengan Aremanya diambang perpecahan. Hal ini mengacu pada legalitas identitas yang dimiliki. Seperti ironi klub rival abadi, Persebaya Surabaya, yang baru saja mentas dari suspensi PSSI, Arema juga demikian. Ya, tepatnya Arema (yang) Indonesia.

Semua ini memang patut dirayakan, bagi yang ingin merayakan. Karena tanpa adanya klub, supporter hanya menyisakan nama. Terlebih bagi mereka para supporter fanatik yang setia dan rela menunggu klubnya berlaga dalam hitungan tahun, dan merindu dalam hitungan cinta.

Kasus yang menimpa sudah lama mengidap dalam nama besar Arema. Satu wilayah dengan nama klub yang sama. Benar, dualisme. Ada dua nama Arema, Arema FC dan Arema Indonesia. Hingga saat ini, momok tak terhindarkan itu masih saja memayungi Arema semenjak kompetisi era 2011-2012. Konflik ini tidak seperti dualisme klub di Kota Madrid dengan Real Madrid atau Atletico Madrid-nya, pun di Kota Manchester dengan Manchester United dan Manchester City-nya.

Arema memiliki hikayat dualisme yang tak syahdu. Sekalipun tak separah konflik di Timur Tengah, badai masalah dualisme yang menerpa Arema cukup merisaukan. Dan secara tidak langsung mengimplikasikan dari pada Aremania. Sebab, mereka adalah garda terdepan dalam setiap apapun yang berkaitan dengan Arema.

Titik balik dualisme disaat kubu Arema Indonesia melaksanakan launching Tim di kawasan daerah Tidar Kota Malang. Dari situ lah isu bermunculan. Perang media tak terhindarkan. Propaganda tersebar bak kilat yang menyambar. Cepat merasuk ke seluruh elemen masyarakat Malang akan legalitas dan identitas Arema yang sebenarnya.
Puncaknya adalah ketika kongres PSSI yang menyatakan dicabutnya suspensi untuk Arema Indonesia beserta beberapa klub lainnya dan keikutsertaannya menjadi voters dalam acara yang dihelat tanggal 8 Januari 2017 (kemarin) itu. Namun, Arema Indonesia beserta sejumlah klub tersebut mengawali kompetisi musim ini dari kasta terbawah, Liga Nusantara. Sementara Arema FC, yang kita tahu, masih eksis menjadi tim besar di kasta tertinggi. Jadi, rivalitas bertajuk derby Arema dalam liga resmi masih jauh dari jangkauan.

Maka, dari sini wajar jika Aremania menuntut akan rekonsiliasi guna mencerahkan masa depan klub kebanggan. Wacana rekonsiliasi sendiri sempat santer menyebar. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, hal itu mendadak hilang terhempas angin. Dualisme ini memang cukup melelahkan akal dan pikiran, bagi mereka yang memikirkan. Bagi yang tidak, ya urusan mereka.

Karena hal yang tak receh ini cukup mampu memecah belah paham dan ideology segenap masyarakat Malang akan Arema-nya. Apalagi, antara pihak A dan B sangat sulit dipertemukan. Entah lantaran gengsi atau alasan tak logis lainnya. Yang jelas, selama kepentingan pribadi masih menyelimuti, kesadaran akan kepentingan umum akan tetap terpendam dan bersemayam. Hingga yang terjadi adalah distorsi, dari kubu A, lalu kubu B pun demikian, dan begitu seterusnya.

Yang kami harap, semoga kawanan elit tidak cukup nyaman dengan sederet kasus yang membelit. Urgensi akan semua kebaikan menyoal nama besar Arema dan Kota Malang cukup diacuhkan. Mungkin bagi mereka, tidak ada yang jauh lebih vital selain uang. Karena sepakbola adalah industri. Ladang luas untuk meraup recehan rupiah.

Dan teruntuk kami, kita, kalian para Aremania, tetaplah berdedikasi tinggi terhadap klub kebanggaan Kota Malang. Antara kita mempunyai asumsi. Setiap kita memiliki argumentasi. Arema mana yang akan kita support, itu kembali pada nurani pribadi setiap masing-masing. Singkirkan propaganda, hempaskan provokasi, dan enyahkan intevensi. Tetap pada pendirian. Selama hak asasi manusia masih berlaku, mari menghormati tanpa harus menistanya. Karena hanya sepatu lah yang layak digantung. Syal dan atribut kebanggan tidak.

Kota Malang besar karena Arema. Arema besar karena Aremania. Lalu masihkah kau mengakuisisi akan kebesaran nama Arema ada ditangamu, Om ? Patut dinantikan siapa yang akan terseleksi oleh alam.

SALAM SATU JIWA !!! AREMA !!!

Ditulis oleh @ramaditya_20

Bagi yang ingi mengirimkan opininya, silakan ke ongisnadenet@gmail.com (minimal 200 kata)


Opinion