Follow us @ongisnadeNet

Arema dan Aremania Adalah Pemersatu Bukan Pemerdua

created by ico Tuesday, 10 Jan 2017



Bambang “Pak Wok” Hartono, seorang sopir Mikrolet AMG (Arjosari – Mergosono – Gadang). Notabene, beliau adalah bapak kandung saya yang sangat saya banggakan dan kagumi.

Setiap pagi ketika berangkat sekolah di SMP 3 Malang pertengahan 2001, saya “numpang” sambil belajar “ngernet”. Masa – masa yang indah dan menarik. Apalagi dikala itu Arema dan Persema sedang terseok-seok menghadapi kompetisi liga.

Dengan bangganya saya bilang ke Bapak, “Pak, aku tak nonton Arema di Gajayana ya?”.
“Kok Arema? Iku senengane rusuh suporternya, mending nonton Persema aja. Sepi, ntar tak cariin freepass”, kebetulan Bapak adalah salah satu pengurus supporter Laskar Ken Arok – Bledeg Biru di Arjosari.

Pada saat itu saya menjawab iya saja, karena tidak ada gunanya berdebat di angkot. “Arep ulangan hare”.

Setelah merengek – rengek ingin melihat Araya plus Rubio bersaudara dan meyakinkan kalau nanti aman dan tidak ada rusuh, dan hanya minta uang untuk tiket masuk, dengan konsekuensi dari Tanjung gang 9 jalan kaki ke Gajayana serta tidak ada uang jajan, maka luluhlah hati beliau.

Rp 17.500 uang yang diberikan, bukan jumlah yang sedikit untuk keluarga kami saat itu. Yang tidak saya lupa adalah pesan beliau, “Jangan malu – maluin, bayar tiket buat masuk, kasian pemainnya”.

Jika mengingat itu sampai sekarang saya masih merinding. Kata – kata yang harus saya pegang sampai sekarang, pendukung klub sekota berpesan seperti itu ke anaknya untuk mendukung Arema di Gajayana.

Kemudian dimulailah masa – masa militanisme saya pada Arema. Sempat ditegur guru olahraga semasa SMP, celana olahraga saya tempelin bordiran Arema. “Kan saya supporter Arema, Aremania” jawab saya, dan beliau hanya tersenyum geleng - geleng kepala.

Bagaimana saya membantu di Korwil untuk kirim Aqua ke lapangan ketika latihan, mikul Aqua. Bertemu Nanang Supriyadi pemain idola saya “Suwun yo Le”, dan saya menimpali “Om, ojo lali lek main nggawe gol yo Om”, kemudian beliau berlari menjauh sambil mengacungkan ibu jari.

Enough for flashback.

Mangkel dan sedih, membaca di Ongisnade.net ternyata kembali ada 2 Arema yang berkompetisi. Whaaaaaaaaat? Ada apa ini? Orang lain giat latihan malah ada acara seperti ini.

Bukan tidak suka, bukan tidak mendukung kompetisi yang baik. Tetapi ini adalah bentuk memecah belah Aremania. Apakah ada unsur politik terkait dengan PILKADA di Malang? Saya tidak mau berkomentar soal hal tersebut, walaupun Aremania adalah basis massa yang besar dan mudah digerakkan karena memiliki semangat sependeritaan.

Sangat disayangkan jika Arema yang dibentuk oleh Almarhum Pak Acub Zaenal, adalah semangat untuk mempersatukan Malang Raya dalam sepakbola, berkarya adalah jawabannya. Sejarah tidak akan pernah melupakan, beberapa orang akan sakit hati melihat kenyataan hari ini.

Memilukan ketika mengingat jaman dahulu, klub yang dibelanya ketika jaman susah, ketika “ngglundung” ke Divisi 1, sekarang hanya menjadi dagangan dan dagelan segelintir orang.

“Berapa pun Arema-nya, Aremania tetap satu dan sing penting rukun”, saya tidak setuju dengan pernyataan seperti demikian. Karena Arema dan Aremania sejatinya hanya satu, tidak ada embel – embel FC atau Indonesia atau yang lainnya. Rukun dari mananya? Adalah pertanyaan yang akan muncul berikutnya. Ketika definisi rukun adalah tidak terjadi tawuran, jotos – jotosan, tayar – tayaran, maka selamat datang perpecahan.
Arema dan Aremania adalah pemersatu bukan pemerdua, saya dukung sekali. Dan ini sudah menjadi identitas kami yang merantau keluar Malang.

Ingin tahu cerita kami di Batuhijau, Sumbawa? Anda bisa tanya ke Andriek “Bandrex” Faisal atau Sam Benidictus “Beni” Iwan Suteja. Anda kepo dengan perjuangan di Kupang? Silahkan menghubungi Mas Ishak “Kromeng” Bashori yang sudah membawa benderanya sampai ke New Zealand, di Balikpapan atau di Banjarmasin? Di Batukajang atau di Tanjung Adaro? Bahkan di pucuk Gunung Grassberg pun masih berkibar bendera Arema dan Aremania.

Berkaca dan malulah, adalah 2 kata perintah yang tepat untuk anda – anda yang senang uprek – uprek Arema yang selalu bermasalah dengan dualisme. Devide et Impera kah ini? Maybe yes, maybe no. Nurani anda yang bisa menjawab.

Singo Edan, sepertinya sudah hilang spirit Singo-nya dan tertinggal hanya Edan saja. Keblinger, ya keblinger dengan harta. Kita sukses ketika miskin mampu berprestasi sangat manis untuk dikenang. Bangganya bercerita kepada anak cucu tentang Arema dan Aremania yang menjadi bagian hidupnya, priceless.

Jaga dan jangan nodai seperti ini, cukup sekali saja dengan problem dualisme, cukup. Banyak orang diluar sana yang telah berkorban untuk Arema yang menangis sedih. Ketika kompetisi berjalan apakah tidak sebaiknya bersatu bahu – membahu untuk menjadi juara? Dengan 2 resources yang mumpuni pasti tidak sulit untuk menggodok pemain asli Malang dan mencari bakat – bakat yang menunggu di penjuru lapangan se Kabupaten – Kota Malang bahkan Karesidenan Malang.

Mimpi saya tetap seperti Ajax dengan akademinya, Arema pun demikian. Dari pada repot ribut soal legalitas yang hanya bertahan seumur jagung. Iku lho, sawangen pengganti Bustomi, Singgih Pitono – Singgih Pitono muda untuk obrak abrik pertahanan lawan, Kuncoro – Kuncoro muda yang siap mengganyang bola di jantung pertahanan tengah Arema, Nanang Supriyadi – Nanang Supriyadi muda yang berlari seperti kancil di belakang 2 striker.

Carilah Pacho – Pacho yang loyalitasnya melebihi pemain Indonesia, kangen liukan duo Huda di sayap kiri dan kanan Arema, I Putu Gede yang gahar ditengah, Charis Yulianto yang suka sapu bersih ke depan.

Sains sport coba dikembangkan, jangan hanya rame – rame pemain cidera, pemain tidak siap bermain. Rasanya klub – klub Eropa dan dunia sudah menjadikan ini sebagai pendekatan standart untuk meraih gelar juara. Daripada ribut tidak jelas.
Kok ngene Arema saiki? Gendeng!

Sugih iki ujian Le, eling jamanmu susah,
(Nasehat Pak Wok).

Bayu Aji Hidayat
anak-e Pak Wok, ebes-e Ezy, Instructor
@hidayat4AR
ajihidayat@gmail.com,

Bagi yang ingin mengirimkan tulisannya, silakan kirimkan ke ongisnadenet@gmail.com (minimal 200 kata)

 


Opinion