Follow us @ongisnadeNet

Jawaban Untuk Senjakala Singo Edan: Sebuah Cerita Dari Ebes

created by ico Thursday, 5 Jan 2017



Nampaknya kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya adalah benar adanya, ebes walaupun bukan orang malang asli adalah aremania yg bisa dibilang sejati.

Walaupun tidak tergabung di Aremania korwil manapun. Sedikit informasi saja ebes ayas asli Blitar dan merantau ke Batu tahun 1981. Perjalanannya menjadi Aremania dimulai dari Arema masih menggunakan stadion luar Gajayana, kala itu beliau bercerita katanya sekali lagi katanya pemain Arema itu dulunya ya bermacam macam orang pengangguran entah profesinya apa yg dikumpulkan oleh alm. Sam Ikul untuk bermain bola.

Dinamakan Arema kalau dari prespektif ebes agar menyatukan arek Malang. Siapa arek Malang? Arek Malang ya semua orang yang merasa dirinya tinggal, lahir, atau bahkan hanya mencintai kota Malang.

Ebes juga menuturkan bahwa awal awal dulu entah saya lupa tahun berapa, yang jelas pada era galatama, manajemen sangat bergantung kepada Aremania untuk membayar gaji pemain, caranya? Ya nonton ke stadion dan beli tiket.

Oleh karena itu ebes juga mengatakan bahwa beliau sangat sangat benci kepada para oknum yang memasukkan sanak saudara atau kerabatnya ke stadion dengan cuma cuma kecuali melalui freepass.

Bicara tentang bola tentu berbicara kalah dan menang, benar? Kalau dari ebes sendiri sih "arema iku gapopo kalah sing penting maine wes malangan, keras ga koyok putri solo". Ya tentu dari sini bisa kita lihat dari pandangan orang yang mengikuti arema dari awal bahwa arema iku bukan yg menangan!

Pernah suatu ketika kalau tidak salah tahun 2003 saat saya masih duduk di Sekolah Dasar (SD), laga home melawan Persik di Gajayana yg kala itu dihuni bedol desa eks pemain dari Arema (Wawan Widiantoro cs) dengan anomali Persik berada di jalur juara sedangkan arema ada di jurang degradasi.

Stadion begitu ramai penuh sesak, ayas dan ebes datang memang agak terlalu sore sehingga kehabisan tiket dan nampaknya ketika kami datang stadion sudah lumayan penuh. Ebes yang kala itu begitu menggebu ingin menonton dan mendukung tim pujaannya kelabakan mencari tiket hingga 2 tiket ekonomi milik seseorang yg seingat saya agak tua ditebusnya dengan nominal 300 ribu, bayangkan 300 ribu ditahun tersebut sudah bisa beli apa?

Hasrat yang begitu menggebu nampaknya kandas ketika match stewart dan bapak bapak silup sudah menutup semua pintu masuk ke stadion, kesialan tidak sampai disitu saja. Di depan pintu yg sudah ditutup tadi ayas dan ebes berdesak desakan dengan Aremania yg lain tanpa diduga tanpa dinyana dompet dan hp ebes raib kecopetan, dengan kecewa ayas dan ebes kembali ke Batu dan mendengarkan siaran lewat radio. Skor akhir 2-2 tidak terlalu mengecewakan, namun di akhir musim arema harus terdegradasi ke liga Pertamina.

Pengalaman pahit tersebut tak lantas membuat ayas dan ebes kapok, walaupun Arema bermain di kasta kedua kami tidak pernah luput menonton saat laga home, sekedar informasi ayas kala itu sekolah di SD Al Irsyad Batu yg pulangnya jam 4 sore, ketika Arema bermain ebes menjemput dan mengizinkan untuk pulang lebih awal, karena menurut ebes pertandingan hanya berlaku sekali seumur hidup tidak bisa di ulang kalo pelajaran masih bisa di ulang.

Pernah suatu ketika ditahun 2004 Arema melawan Persibom kalau tidak salah kami melakukan tebak2an pencetak gol, saya menebak junior lima yg akan mencetak gol sedangkan Ebes berkelakar bahwa Nanang Supriadi yang mirip penjual bakpao itu akan mencetak hattrick! Hasilnya mutlak benar arema menang 3-0 dan nanang hattrick. Luar biasa lucunya kala itu karena seingat saya nanang sendiri belum pernah mencetak gol di musim itu.

Sampai sekarang pun Ebes masih setia mendukung arema begitupun ayas. Mengenai dualisme yg terjadi Ebes ambil simpelnya saja, "Bung Ovan Tobing itu lebih tau dari kita semua, dia juga merupakan salah satu pendiri Arema, dimana arema yg dia bacakan starting line-upnya saat laga home, itulah Arema yg kita dukung. Bukan yg sekedar menangan!"

Menurut saya juga memang Bung OT tidak bisa menjadi acuan mutlak tapi beliau lebih tau dalamnya Arema daripada kita yg mendukung Arema dan berteriak dari tribun.  SALAM SATU JIWA dari ayas dan ebes Aremania!

Penulis merupakan mahasiswa FISIP UB
Biasa berkicau di @indra_ndomby

*Bagi yang ingin menulis di tribun Aremania, silakan kirimkan artikel anda (minimal 200 kata) ke email ongisnadenet@gmail.com


Opinion