Follow us @ongisnadeNet

Sepinya Kanjuruhan

created by ico Thursday, 28 Jul 2016



Sepinya penonton stadion Kanjuruhan menjadi topik yang hangat beberapa hari terakhir di kalangan Aremania dan persepakbolaan nasional. Berbeda dengan beberapa artikel yang ada, saya coba melihat dari sudut pandang lain.

Di laga Arema vs Persija tanggal 19 Juni 2016 stadion Kanjuruhan dipenuhi Aremania, setelah itu di tiga laga kandang berikutnya berikutnya jumlah penonton di stadion Kanjuruhan relatif sepi, hanya berkisar 5.000-10.000 tiket yang terjual.

Jumlah ini jauh menurun dari rata-rata jumlah penonton Kanjuruhan di beberapa tahun terakhir. Kita ambil contoh di tahun 2013, stadion Kanjuruhan merupakan stadion dengan jumlah rata-rata penonton tertinggi di ISL 2013 dengan rata-rata 25.671 penonton/laga, yang juga menjadi salah satu stadion dengan jumlah penonton terbanyak se Asia.

Dengan jumlah penonton 5.000-10.000/laga, hal jelas merupakan penurunan yang sangat drastis, sampai-sampai coach Milomir Seslija mengaku kecewa dengan sedikitnya jumlah Aremania yang mendukung dan hadir ke stadion.

Kekecewaan yang cukup wajar karena dengan hanya 5.000 penonton, euforia dan atmosfer stadion tentu jauh berbeda dengan ketika stadion dipenuhi 30.000-40.000 penonton, dan yang jelas pemasukan dari penjualan tiket juga akan menurun drastis.

Banyak yang bertanya-tanya apa yang menyebabkan drastisnya penurunan jumlah penonton di stadion Kanjuruhan saat ini, menurut analisa saya ada banyak factor, diantaranya :

1. Gaya permainan tim Arema dibawah coach Milo cenderung lebih pragmatis.  Ciri khas permainan lugas, keras dan cepat yang pernah menjadi trade mark Arema saat ini cenderung berubah dengan permainan pragmatis, save, ball possession, dan dengan tempo cenderung lambat.  Aliran bola juga banyak berkutat di lini tengah dan lini belakang untuk meminimalisir kehilangan bola.  Di satu sisi gaya main seperti ini sampe pekan ke-12 berhasil membawa Arema memuncaki klasemen dengan nilai 27, selisih gol +14, menjadi tim paling produktif ke-3 dengan 17 gol, dan menjadi tim paling sedikit kebobolan dengan 3 gol. Tapi di sisi lain gaya permainan seperti ini kurang menghibur dan relatif membosankan. Mengingat tidak semua yang datang ke stadion adalah “supporter”, disana juga ada “penonton murni” yang memang tujuan datang ke stadion hanya untuk mencari hiburan dan berharap pertandingan yang menarik, seru, menegangkan. Ketika permainan yang disajikan tidak sesuai yang diharapkan mereka lebih memilih menonton lewat layar kaca.

Bagaimana anda menilai laga Arema vs Barito Putra pada selasa 26 juli 2016 kemarin ?

Sebagai Aremania sejak tahun 1990, secara obyektif saya menilai pertandingan tersebut berjalan datar, lambat, membosankan, tanpa ketegangan, dan tidak menarik untuk ditonton. Entah dengan Aremania yang lain.

2. Yang juga mempengaruhi menurunnya penonton kanjuruhan selain hal diatas adalah stadion Kanjuruhan mungkin dekat bagi Aremania dari Malang selatan dan sekitarnya, tapi relatif jauh bagi Aremania yang berasal dari Kota Malang, Batu, Pujon, Singosari, Lawang dan sekitarnya. Meski ada beberapa kendala, tapi opsi pemakaian stadion Gajayana untuk beberapa pertandingan tertentu sepertinya layak untuk dipertimbangkan.

3. Waktu pertandingan pada jam 19.00 dan terlebih lagi pada jam 21.00 tentunya menjadi hal yang cukup berat bagi karyawan yang bekerja seharian, dan juga menjadi hal yang berat bagi Aremanita, Ibu-ibu dan anak-anak.

Semua yang saya sampaikan bisa jadi berbeda dengan pandangan Aremania-Aremania yang lain, tetapi yang jelas semua ingin klub Arema berprestasi bagus di lapangan, Aremania memenuhi stadion dan selalu memberikan kontribusi positif demi kelangsungan dan eksistensi Arema.

SALAM SATU JIWA  !!!

Ditulis oleh Doni Novianto <dohnydepp@gmail.com>


Opinion