Follow usĀ @ongisnadeNet

Mengenang Suharno: Berawal Dari Nasi Pecel, Berakhir Dengan Baju Arema



Kaget saya saat dikabari pelatih Arema Cronus, Suharno meninggal. Kabar ini saya tahu dari grup wartawan olahraga yang biasanya meliput tim Singo Edan. Semakin kaget karena kabar ini benar.

Rabu malam seluruh masyarakat pecinta Arema tentu saja menangis mendengarkan kabar ini. Almarhum boleh saja tak pernah menyumbangkan trofi juara kompetisi namun racikannya membuat Arema Cronus mampu memboyong lima piala pra musim. Yang heroik tentu saja saat mengalahkan Persib Bandung di Inter Island Cup, dan saat di Malang disambut puluhan ribu Aremania.

Mengenang Suharno tidak akan habisnya. Pelatih ini seolah-olah tidak pernah memperlakukan orang lain dengan jahat. Saya jadi teringat saat kedatangan beliau pada musim 2011/2012. Saat itu Arema terancam degradasi, beliau pun ditunjuk sebagai pelatih kepala dengan target membawa tim Singo Edan keluar dari zona degradasi. Pertama kali latihan di stadion Gajayana, masih tampak kaku memang pemain lain ke beliau, namun situasi kaku itu makin mencair saat ada kata "once" keluar dari mulut almarhum.

Perilaku ramah almarhum Suharno pun tak hanya kepada para pemain. Kepada wartawan yang meliput Arema, ia juga ramah. Bahkan setelah latihan pertama bersama Arema ini, ia mangajak beberapa wartawan makan di nasi pecel kawi. "Ayo dulur mangan mangan (makan-makan) disek, ndek endi enake (dimana ini enaknya)?". Pecel kawi pun dipilih karena lokasinya yang dekat dan waktu juga masih pagi hari.

Obrolan ringan seputar Arema pun mengalir. Ia pun mengaku saat itu berani mengambil pekerjaan sebagai pelatih kepala Singo Edan karena tak ingin Arema degradasi. Bukan sekali ini saja, wartawan diajak makan oleh beliau karena beberapa kali setelah latihan, ia tak segan mengeluarkan beberapa puluh ribu atau ratus ribu rupiah untuk bercengkrama bersama wartawan dan mendengarkan masukan dari para jurnalis.

Kemenangan demi kemenangan pun mampu disumbangkan oleh Suharno bersama timnya. Saya yang meliput langsung pertandingan terutama di stadion Kanjuruhan memang menyaksikan ada perubahan kaya bermain Arema sebelum ditangani Suharno dan setelah ditangani almarhum. Satu yang pasti pertahanan tim lebih solid. Muhnar yang dulu bukan siapa-siapa menjadi andalan, bahkan julukan pohon asem pun melekat. Arema pun lolos degradasi.

Musim 2012/2013, almarhum tak lagi menangani Arema karena saat itu tim Singo Edan memilih Rahmad Darmawan sebagai pelatih kepala. Almarhum Suharno pun sempat melatih di Gresik United namun tidak sampai kompetisi selesai. Pada musim 2013/2014, ia pun kembali bersama Arema. Berduet dengan Joko Susilo, ia diharapkan mampu membawa tim Singo Edan meraih juara. Jujur saja kepada para pembaca atau yang aktif di sosial media, banyak yang meragukan kemampuan Suharno saat itu. Aremania pada musim tersebut lebih ingin sosok seperti Robert Alberts atau Dejan Antonic sebagai pelatih kepala.

Namun almarhum mampu membuktikan, duetnya bersama Joko Susilo mampu membawa Arema tetap bersaing meski akhirnya gagal menjadi juara kompetisi. Musim pun berganti, Suharno tetap dipercaya sebagai pelatih kepala. Namun kompetisi ISL 2014/2015 hanya berjalan dua pertandingan karena konflik sepakbola yang terjadi. Meski nasib yang tak jelas namun almarhum tetap semangat melatih tim Arema. Saat gaji seret, ia seolah tak peduli dan tetap memberikan latihan untuk para pemain.

Sekilas orang melihat, ia lebih banyak diam sebagai pelatih kepala dan lebih banyak Joko Susilo yang memberikan rincian taktik. Namun ada satu senjata yang dimiliki Suharno yaitu motivasi. Perilaku ke-bapak-annya kepada pemain membuat mereka segan dan akhirnya memberikan kemampuan terbaik saat tim Arema Cronus berlatih.

Namun Rabu malam kabar duka pun datang. Ia yang masih sempat melatih sore harinya, bahkan sempat meladeni foto bersama Aremania akhirnya berpulang pada Rabu malam. Almarhum akan selalu diingat. Beliau datang ke tim dengan semangat menyelamatkan tim Arema dan mengakhiri hidupnya dengan berbaju Arema.

Selamat jalan coach, tetap menjadi Arema disana

Ditulis oleh Muhammad Irfan Anshori (@irfanglen)
Penulis di Ongisnade.co.id

Redaksi menerima tulisan opini atau kiriman berita dari nawak-nawak. Kirimkan tulisan anda ke email ongisnadenet@gmail.com