Follow us @ongisnadeNet

Evolusi Stadion Kapten Dipta Gianyar


Stadion Kapten Dipta yang saat ini kembali bersolek

Pulau Bali adalah tempat wisata di Indonesia yang menarik perhatian wisatawan mancanegara. Bali yang sering disebut dengan Pulau Dewata tersebut, mempunyai keindahan alam dan budaya yang melimpah. 

Hamparan Pantai Kuta seolah menjadi surga wisatawan ketika pergantian waktu dari sore menuju malam. Tenggelamnya matahari di Pantai Kuta diakui oleh para wisatawan sebagai salah satu sunset terindah di dunia.

Bali yang begitu tersohor dengan pariwisatanya mencoba memikat Nusantara dari bidang olahraga bernama sepak bola. Ya, Provinsi Bali telah lama tertidur dalam sebuah kompetisi sepak bola di Indonesia. Tim sepak bola asal Bali seperti Gelora Dewata, Perseden Denpasar, Persegi Gianyar, dan Persekaba Badung seolah ikut tenggelam bersamaan dengan indahnya sunset Pantai Kuta.

Pada awal tahun 2015 ini, sepak bola Bali mencoba kembali dari tidurnya. Bali United Pusam menjadi salah satu kontestan kompetisi sepak bola tertinggi di tanah air, Indonesia Super League (ISL). Adanya Bali United Pusam, tak terlepas dari tim sepak bola asal Samarinda, Kalimantan Timur, Persisam Putra Samarinda berpindah home base dari Pulau Borneo (sebutan Pulau Kalimantan) ke Pulau Dewata. Berpindahnya Persisam ke Bali tersebut, lantas diikuti dengan perubahan nama klub menjadi Bali United Pusam. 

Kompetisi ISL 2015 yang sedianya akan bergulir pada bulan Februari 2015, ternyata harus tertunda. Penundaan ISL 2015 merupakan akibat dari carut marut antara Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), dan juga Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Kekisruhan yang terjadi pada tiga badan olahraga tersebut, akhirnya memutuskan kickoff ISL 2015, dimulai pada bulan April 2015.

Dengan ditundanya ISL 2015, beberapa tim berupaya mengadakan sebuah kompetisi pra-musim sebagai ajang pemanasan. Salah satunya akan segera digelar adalah Bali Island Cup 2015. Bali United Pusam selaku tuan rumah penyelenggara mengundang tiga klub lain sebagai peserta ajang pra-musim ini. Ketiganya adalah Arema Cronus, Pelita Bandung Raya (PBR), dan Persiram Raja Ampat. Format kompetisi pra-musim ini akan mempertemukan keempat klub tersebut. Dan yang meraih poin terbanyak akan dinobatkan sebagai juara. Bali Island Cup 2015 akan digelar pada tanggal 12-16 Maret 2015, berlangsung di stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar Bali.

Bila menengok pada beberapa tahun ke belakang, Stadion Kapten Dipta ini sangatlah tidak selaras dengan eksotisnya Pulau Bali. Tepat pada tanggal 26 Desember 2007, kala itu Persegi Gianyar yang bermarkas di Stadion Kapten Dipta menjamu tim Arema Malang pada kompetisi Liga Indonesia 2007/2008. Pada saat itu, stadion terbesar di Provinsi Bali tersebut tidak dapat dikatakan layak sebagai salah satu panggung kompetisi sepak bola Indonesia. 

Pengalaman penulis saat itu, stadion memang sudah berdiri megah, namun megahnya tribun berkapasitas dua puluh lima ribu penonton tidak diikuti infrastruktur yang lain. Lampu penerangan di area stadion sangat minim, tembok stadion masih belum terlapisi semen, lampu stadion belum ada, lantai area stadion hingga lorong pintu masuk penonton sebagian masih dari tanah. (Baca juga: Ujicoba PSIS vs Arema Kembali Mengemuka)

Dapat dikatakan stadion ini angker bagi penontonya, bukan bagi lawan bertanding mereka. Bahkan kualitas tiket pertandingan, tidak lebih baik dari sebuah tiket parkir kendaraan di mall-mall yang berada di Kota Denpasar Bali. Sungguh ironis memang. 

Namun kini Bali telah berbenah. Pada awal tahun 2015, stadion Kapten Dipta telah menghabiskan dana sekitar lima milyar rupiah agar layak menjadi kandang Bali United Pusam. Lampu stadion, tribun penonton, ruang ganti pemain, ruang media, serta kualitas rumput lapangan telah dibenahi oleh manajemen Bali United Pusam. 

Stadion Kapten Dipta sekarang, ibarat seperti seorang wanita yang terlihat cantik berkat polesan sebuah make-up, hingga mampu memancarkan pesonanya. Mungkin juga, dengan peningkatan kualitas dari Stadion Kapten Dipta, menjadi tonggak awal prestasi sepak bola dari Pulau Dewata. 

Bali, terima kasih telah kembali, serta menjadi warna dalam belantika sepak bola nasional. “Terima kasih Baliku untuk budaya dan alammu. Terima kasih untuk cantik gadismu. Dan kersanya, arak Balimu.”(Lirik Lagu Slank-Bali Bagus).

Ditulis oleh: Dimas Mahardika (@Mahardhika7)
Crew Ongisnade